
Awalnya, aku dikenalkan oleh temanku dengan seorang cowok di sekolah. Aku kelas 7 dan dia kelas 10. Temanku ini berpacaran dengan temannya si cowok itu. Merekalah yang mempertemukan kami.
Kami mulai saling suka.
Aku masih mengingat bagaimana ini terjadi. Berawal dari kami berlatih bersama mempersiapkan pentas di pesta tahunan sekolah dan temanku begitu senang melihat kebersamaan kami.
Inilah awal titik balik hidupku . Dia menyampaikan rasa cintanya padaku melalui temanku. Aku masih terlalu dini, tetapi aku tak bisa membohongi perasaanku. Aku juga menyukainya.
Tapi aku akan beri jawaban setelah acara selesai. Lambat laun, waktu telah siang hari. Aku duduk di dekat panggung dengan peserta lain. Aku memakai gaun lehenga merah muda dan dia berdiri menatapku dari luar tenda stan. Aku melambaikan tangan memanggil dia. “Aku haus, bawakan aku air dong.” Dia datang padaku membawakan segelas air dan bertanya seakan memastikan apakah temanku sudah menyampaikan cintanya padaku. Aku bilang, “Ya, dia sudah beritahu semuanya.” “Lalu, apa jawabanmu?” tuturnya.
Aku tersenyum dan pipiku memerah. Ini bertanda, “Ya!”
Kami mulai berpacaran. Kami tidak pernah melewatkan hari demi hari tanpa pertemuan. Uniknya, satu sekolah tahu tentang kami.
Semua orang penasaran tentang hubungan kami. Kami dianggap pasangan yang romantis. Kami selalu bertemu di tangga atau pancuran taman. Bahkan, di luar sekolah pun, dia datang ke tempat tongkronganku untuk jumpa denganku.
Kami berkomunikasi melalui HP di malam hari. Kami dapat bertemu kapanpun kami mau. Kami saling memeluk dan berciuman. Terkadang kami juga bertengkar. Tapi itulah kesempurnaan.
Suatu saat, aku diperingati oleh beberapa teman kelasku dan orang lain bahwa dia pergi juga dengan cewek lain, tapi aku tidak menghiraukannya. Kami sudah berpacaran selama tiga tahun.
Tiga tahun berlalu, dia lulus sekolah dan melanjutkan studi Sarjana Teknologinya di Dehradun. Selama enam bulan pertama, kami tidak ada masalah apapun. Namun, setelah itu, dia mulai cuek padaku. Tapi aku masih mencintainya.
Bagiku, dia sungguh berarti dalam hidupku. Aku berusaha mengerti. Akan tetapi, dia terus cuek padaku.
Waktu komunikasi kami menjadi sedikit dan kami selalu bertengkar setiap hari. Ketika dia pulang pun, kami susah bertemu karena dia terus cuek padaku.
Tak kusangka, aku alami kepahitan ini ketika aku duduk di kelas 11.
Akhirnya, aku mencoba membahas persoalan ini dengan temanku. Mereka menyarankan agar aku harus meninggalkannya. Aku berpikir dia tidak akan membuatku jauh daripadanya, tapi aku salah.
Aku menelpon dia di Hari Ulang Tahunnya untuk mengungkapkan kata putus, sekaligus keinginan tahuanku tentang respon dia. Aku bilang padanya ini adalah telepon terakhirku karena aku ingin putus dan dia menjawab, “OK!”
Di luar dugaan, aku tidak menyangka dia bilang seperti itu.
Aku sungguh sakit hati dan depresi, bahkan berpikir mau bunuh diri. Kedua orang tuaku turut prihatin dan sedih melihat kondisiku. Butuh waktu setahun aku dapat move on. Waktu yang cukup lama untuk pemulihan setelah putus dengannya. Keluarga dan teman-temanku terus menguatkanku dan memberikan aku semangat.
Setelah bertahun-tahun, aku menjadi pribadi yang tidak emosional. Aku tidak percaya lagi apa itu pacaran atau cinta. Semua ini karena dia.
Akan tetapi, dia telah mengubahku menjadi seorang yang berani dan kuat. Aku mandiri, cerdas, dan intelektual. Kini, aku tak mau memikirkan tentang cinta karena aku ingin fokus terhadap jenjang karirku yang sukses.
Sekarang ada pria lain memasuki kehidupanku. Dia tulus mencintaiku dan kelak aku akan menikah dengannya. Dia terus sabar menanti. Aku sebenarnya belum siap menjalani hubungan dengan siapapun, tapi dia tetap menunggu lebih dari tiga tahun. Suatu hari, dia tiba-tiba melamarku dan mengatakan siap menikah denganku.