Sering kali situasi yang menggelisahkan jiwa dan raga terjadi dalam hidup kita, seperti saat wawancara pekerjaan atau saat kencan pertamamu. Tanpa terlihat putus asa, kamu ingin sekali meyakinkan orang asing yang mungkin tidak mengenalmu bahwa mereka layak meluangkan waktu, uang, dan perhatiannya daripada memberikannya ke orang lain. Kemungkinan besar juga kamu melakukan itu semua dengan menggunakan setelan pakaian yang bahkan tidak kamu sukai.
Banyak dari kita menanggapi tekanan situasi ini dengan menyorot kesuksesan yang pernah dicapai dan talenta kita, sebuah cara yang disebut oleh psikolog sebagai “manajemen kesan”. Cara “menjual diri” ini kadang terkesan menjengkelkan lho: “saya terlahir sebagai pemenang” sebelum mengingatkan pada orang asing bahwa dia bekerja di Goldman Sachs untuk ketiga kalinya.
Bahkan seringkali, bercerita talenta kita sudah menjadi bakat. “Sejak kecil kami dipuji karena selalu mendapatkan nilai yang tinggi, memenangkan pertandingan dan mendapatkan promosi”. Tidak heran, kalau tingkat percaya diri kita sangat terkait dengan tingkat keberhasilan yang dapat diukur dan khayalan – khayalan manis yang dibuat – buat.
Sebuah studi baru dari sekolah bisnis Cass London City yang diterbitkan dalam jurnal Basic and Applied Psychology menunjukan bahwa cara yang kita gunakan selama ini salah. Terutama saat wawancara kerja dan saat kencan. Alih – alih menekankan pada kesuksesan, kita biasanya akan lebih berfokus kepada usaha. Sisi bakat yang kurang menarik.

“Kisah sukses tidak lengkap tanpa penjelasan penyebab kesuksesan itu sendiri” tulis Cass professor Janina Steinmetz. “Apakah kesuksesan lebih mudah dicapai dengan bakat atau kerja keras?” Kedua atribut tersebut dapat menjadi bagian promosi yang bagus untuk “menjual diri”, pertanyaannya adalah manakah dari atribut tersebut yang lebih menarik untuk ditunjukan.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Steinmetz melakukan tiga percobaan. Dua diantaranya sebagai simulasi wawancara kerja dan yang satu terkait kencan. Peserta diminta untuk membayangkan peran sebagai pihak yang memberi kesan seperti pelamar kerja atau pencerita saat kencan dan sebagai si penerima kesan seperti pewawancara kerja atau sebagai si pendengar saat kencan. Sebagai pihak yang memberi kesan, peserta harus mencari tahu apa yang dapat mereka lakukan untuk mendapat kesan positif dan sebagai penerima kesan, peserta harus melaporkan apa yang harus dikatakan sebagai penerima kesan bahwa kesan yang diberikan itu positif.
Ketiga percobaan tersebut menghasilkan kesimpulan yang sama: Pemberi kesan cenderung terlalu menekankan bakat dan talenta yang mereka miliki daripada usaha atau upaya – upaya yang dilakukan, yang di lain sisi lebih disukai oleh penerima kesan.
“Biasanya pemberi kesan selalu mencoba tampil sebagai orang yang kompeten, karena bisanya kompeten memberikan mereka modal sosial dan harga diri” Cerita Steinmetz kepada Quartz. “Berbicara tentang kesuksesan membuat kita merasa kompeten, itulah mengapa kita sering melakukannya. Tetapi akan salah arah jika kita hanya berbicara tentang kompetensi tanpa usaha atau upaya – upayanya”.
Upaya, menurut penjelasan Steinmetz adalah berbicara tentang perjuangan dan kerja keras. Hal – hal kurang glamor yang menjadikan kita manusia.
“Ketika saya bertanya kepada anda, bagaimana anda telah mencapai berbagai macam kesuksesan dalam karir anda dan anda menjawab, ‘saya berbakat’ atau ‘saya berjuang dan bekerja sangat keras’. Jawaban terakhir cenderung lebih disukai. “Upaya memberikan kehangatan, daya tarik dan hubungan. Sementara bakat memberikan kesan kompetensi dan kemampuan” kata Steinmetz.
Kuncinya, menurut Steinmetz adalah melakukan keduanya. Kita terlalu khawatir untuk terlihat pintar, sehingga akan selalu berbicara apapun yang akan membuat kita terlihat pintar. Namun, kita kadangkala lupa bahwa orang lain peduli tentang kehangatan dan daya tarik. Keduanya sangat penting, tidak ada yang lebih penting dari satu dan yang lainnya. Sementara kemampuan komunikasi yang berlebihan terdengar arogan, terlalu merendahkan diri juga hal yang buruk (walaupun jarang terjadi)
